Bolehkah Gula & Garam untuk MPASI?

21 Jun

Bukan soal boleh atau tidak boleh diberi gula pasir dan garam. Yang patut kita sadari dari segi nutritif adalah (1) gula yang sehat dan alami bisa diperoleh dari buah-buahan segar (karbohidrat kompleks seperti nasi sebenarnya juga merupakan sumber gula, tetapi baru terasa manis setelah tercerna/dikunyah lama), (2) garam -yakni natrium- bisa didapat dari makanan terutama makanan hewani dan susu serta hasil olahan susu seperti yogurt, keju. Bagi bayi, makanan alami yang beragam sudah cukup memberikan asupan gula dan natrium, tidak perlu tambahan dari gula pasir dan garam.

Kedua, yang patut kita pertimbangkan dari segi rasa adalah bayi belum memerlukan tambahan gula pasir dan garam, sebagaimana makanan orang dewasa. Sebab indera perasanya masih sangat sensitif. Bayi bisa mendeteksi rasa dasar dengan sangat baik. Coba selalu berempati setiap kali menyiapkan makanan bayi, jangan mengukur rasa manis dan asinnya menurut kadar manis-asin indera perasa kita sebagai ortu (yang daya cecapnya memang sudah -maaf- ‘bebal’). Dengan membiasakan bayi menikmati rasa dasar makanan, ia akan memiliki perbendaharaan citarasa lebih kaya, sehingga kelak lebih mudah menyesuaikan diri terhadap beragam jenis makanan (baru). Manfaat lain, ketika ia lebih besar tidak akan menjadi keranjingan (craving) terhadap makanan yang manis berlebihan (a.l. permen, donat lapis gula bubuk) maupun makanan asin-gurih berlebihan (a.l. snack kemasan, fast food). Dan ia hanya akan makan makanan tsb seperlunya saja.

[Pada] umur berapa makanannya [bisa] dibubuhi garam dan gula? Jawabnya, bersamaan dengan masa lepas ASI/susu formula, yakni 2 tahun, makanan balita bisa mulai dibubuhi garam dan gula pasir jika memang diperlukan. Artinya, kalau makanannya sudah manis/gurih, ya ga usah. Misalnya jika sudah dapat manis buah segar/kering (kurma/kismis/sultana/prune) atau asin gurih keju. Nah, kalau makanannya memang perlu dibubuhi gula pasir dan garam, pakai ukuran citarasa anak kita, bukan citarasa kita.

Manfaat mengendalikan pemberian gula pasir dan garam dalam makanan bayi-balita sudah kami rasakan. Anak-anak kami bukanlah anak-anak pemakan permen dan makanan manis. Kalau temannya makan, ia hanya akan ikutan makan, tapi segera berhenti makan sebelum makanan manisnya habis. Hal ini juga dialami oleh kawan/sahabat saya yang menerapkan hal serupa, seperti Lia (Cornelia Agatha) dan Deasy (Deasy Noviyanti) yang testimoninya terpajang di cover milis kita. Manfaatnya, organ cerna anak kita kelak akan lebih terjaga, terutama pankreas dan ginjalnya, sehingga memperkecil risiko diabetes dan hipertensi.

WH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: